Perang Dayak Dan Madura — [best]

The conflict between the peoples, most notably the Sampit Conflict

Cuplikan hitam putih Kota Sampit atau foto monumen Tugu Perdamaian.

Benturan nilai-nilai adat istiadat dan norma sosial sehari-hari di antara kedua belah pihak. perang dayak dan madura

The immediate trigger for the 1999 conflagration appeared, at first glance, to be a minor and localised incident. The fuse was lit in the early hours of January 17, 1999. In a small roadside incident, a Madurese man named Hasan was caught attempting to steal a motorcycle or a chicken—accounts vary slightly—by a group of local Malays and Dayak.

Hanya dalam waktu tiga bulan (Februari–April 2001), lebih dari 500 orang Madura tewas, dan mengungsi massal keluar Kalimantan. Mereka berbaris beratus-ratus kilometer menuju bandara atau pelabuhan, sementara tentara dan polisi yang kalah jumlah hanya mampu mengevakuasi, bukan menghentikan pembantaian. The conflict between the peoples, most notably the

| | Jumlah | Sumber | | :--- | :--- | :--- | | Korban tewas (estimasi) | 469 - 500+ orang | Detik, Tempo | | Korban tewas di pihak Madura | 500 - 1.000 orang | Wikipedia | | Korban tewas di pihak Dayak | 6 orang | Wikipedia | | Rumah dibakar | 319 unit | Kepolisian, Media Indonesia | | Rumah dirusak | 197 unit | Kepolisian, Media Indonesia | | Warga mengungsi | 100.000 - 250.000 orang | Wikipedia |

Para transmigran Madura sering kali mendapatkan lahan pertanian yang lebih subur dan akses ke kota yang lebih mudah dibandingkan rumah adat Dayak yang terpinggirkan. Hal ini memicu rasa iri dan ketidakadilan. Di sisi lain, orang Madura yang agresif secara ekonomi mulai mendominasi sektor perdagangan kecil di pasar-pasar pedesaan, menyinggung perasaan masyarakat lokal. The fuse was lit in the early hours of January 17, 1999

Sekitar 45.000 hingga 70.000 warga Madura mengungsi ke Kalimantan Selatan, Jawa Timur, dan Bali dengan kapal laut. Stadion, terminal, dan pelabuhan dipenuhi pengungsi yang trauma seumur hidup.